Hindari kebiasaan berikut
- Mengurusi ibadah orang lain. Mengapa? Karena kecenderungannya kita mentransfer sifat iblis yang merasa lebih suci dari Adam As. Dan kita tidak dibebani dengan ibadah orang lain. Karena masing-masing orang menanggung dosa masing-masing. Tipuan yang paling sering adalah mewajibkan diri dakwah sehingga mendakwahi orang secara membabi buta tanpa melihat kealiman seseorang, berdakwah itu liat kondisi, situasi, dan obyek dakwahnya. Dan lebih bijiak adalah berdakwah kepada orang-orang yang mempercayai kita. Padahal para Nabi yang menerima wahyu tidak diwajibkan menyampaikan, kecuali para Rasul.
- Mempelajari hal-hal yang tidak digunakan untuk ibadah saat ini, namun meninggalkan hal-hal yang dihadapi dan wajib. Misalnya, mencari-cari kisah-kisah orang soleh, membicarakannya, mendiskusikannya namun tidak melaksanakan apa yang mereka perbuat. Mempelajari ilmu hal (ilmu yang digunakan sehari-hari adalah lebih utama daripada yang tidak.
- Merasa mapan dengan kondisi ibadah. Orang yang merasa mapan dengan ibadahnya adalah orang yang tertipu. Karena tidak ada orang yang beribadah melainkan mereka merasa takut ibadahnya penuh riya dan tidak diterima oleh Allah.
- Merasa mapan dengan kenikmatan. Banyak yang merasa bahwa ridho Allah berkaitan dengan kenikmatan dunia, pendapat ini salah mutlak.Seorang muslim memiliki tujuan akhir bahagia di akhirat bukan di dunia. Kebahagiaan dunia bisa jadi adalah pengluluan Allah (istidroj), sebagaimana kita lihat diberikan oleh Allah kepada orang yang paling ingkar di muka bumi ini.
- Merasa menjadi orang yang terbaik karena telah berbuat banyak untuk orang lain. Tidak semua orang diberi kelapangan untuk berbuat untuk orang lain. Untunglah perintah Allah, "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" dan orang yang terbaik adalah orang yang takwa bukan orang yang utama di antara kamu yang memberi paling banyak. Jargon ini juga rawan riya dan pamrih, karena ibadah yang berkaitan dengan orang lain biasanya memang rawan riya.