Tuesday, October 03, 2006

Diskriminasi Pendidikan di Indonesia

Paradigma Baru Pendidikan Indonesia

I. Diskrimansi Pendidikan di Indonesia

Tak ada seorangpun yang dapat mencegah atau menentukan kelahirannya ke dunia. Sebagaimana manusia yang lahir dalam keadaan tidak beruntung (lahir dalam keadaan miskin atau tidak cerdas). Seandainya kita manusia bisa memilih dimana, kapan, bagaimana, anak siapa, kita dilahirkan tentunya banyak yang akan memilih lahir dari keluarga bangsawan terhormat yang kaya raya, cerdas, baik budi dan di negara yang aman dan damai. Namun hal demikian itu merupakan suatu kemustahilan. Dan sungguh malang nasib anak-anak yang tidak beruntung di negeri ini, yaitu anak-anak yang terlahir miskin sekaligus tidak pintar. Sistem pendidikan negeri ini secara sadar atau tidak telah mendiskriminasikan mereka. Ya, pendidikan Indonesia masih berpihak kepada orang-orang yang beruntung. Beruntung karena dilahirkan sebagai orang kaya/mampu, atau beruntung karena dilahirkan menjadi anak cerdas. Bagi yang kaya, mereka dapat membeli pendidikan (dan ini pula yang membidani lahirnya komersialisasi dunia pendidikan). Mayoritas sekolah di Indonesia memungut biaya. Baru tahun belakangan ada BOS yang membebaskan siswa dari biaya sekolah. Namun sekolah-sekolah tertentu (favorit) tetap memungut biaya untuk para siswanya. Seandainyapun sekolah sudah membebaskan SPP, namun sebagian orangtua merasa berat dengan uang seragam, alat tulis, buku, dan uang jajan sehari-hari. Dan bagi yang miskin namun cerdas masih banyak yang memberikan bantuan dan beasiswa. Sedangkan bagi orang yang miskin sekaligus tidak pandai (mayoritas) lebih banyak harus menerima ketidakadilan ini dengan tatapan kosong dan tak berdaya. Seandainyapun mereka diberi kesempatan masuk sekolah mereka harus berhadapan dengan metode pendidikan yang sekali lagi tidak berpihak padanya. Rumus-rumus dan teori-teori antar galaksi yang diberikan membuat mereka tidak dapat bertahan lama di sekolah. Sistem kenaikan tingkat dan ujian, memaksa mereka harus keluar dari bangku sekolah sebelum waktunya ditambah cap bodoh dan pemalas. Ya inilah fakta pendidikan di Indonesia, semua terpaku pada birokrasi, legalisasi, indoktrinasi program dan kurikulum. Pendidikan di Indonesia mengarahkan anak untuk menjadi produk-produk yang sama dan tidak menghargai potensi dan jiwa anak. Kita ibaratkan, pendidikan di Indonesia hanya mengasah pisau tumpul menjadi tajam bukannya menjadikan serbuk besi/besi rongsok menjadi aneka perkakas. Pendidikan Indonesia hanya memproses bahan baku dengan kualitas tertentu dan mereject bahan baku yang tidak sesuai standar, setelah mereject, barang-barang reject ini dibiarkan dan dianggap rongsokan/sampah dan dari sinilah timbulnya istilah sampah masyarakat.

II. Pendidikan Indonesia yang Ideal
Semestinya sekolah umum adalah sekolah yang lebih menekankan pada aspek penanaman ketauhidan (keyakinan penuh akan peran Tuhan dalam kehidupan), pendidikan akhlak, pengembangan kepribadian dan potensi anak (Brain based learning dan Multiple Intelligence) bukan pembelajaran teknis, teoritis, dan indoktrinasi. Pendidikan Dasar (SD-SMP) seharusnya tidak memberikan penilaian angka namun memberikan laporan (deskriptif/naratif) mengenai perkembangan siswa. Pendidikan dasar hendaknya ditekankan kepada latihan ketrampilan: ketrampilan hitung, ketrampilan baca, ketrampilan tulis, olahraga, akhlak dan budipekerti, bermain, seni, prakarya dan lain-lain tanpa disertai ekspektasi atau target tertentu (kenaikan/kelulusan). Hal ini telah diterapkan di negara-negara maju. Pengkajian-pengkajian akan fungsi otak, kecerdasan majemuk semakin menegaskan keunikan setiap individu. Latihan ketrampilan ini berarti bersifat aplikatif dan tidak paper and text book base. Selama masa-masa ini potensi dan karakter anak dipantau dan dipetakan untuk pendidikan lanjutan bukan untuk dihakimi naik tidak naik/lulus tidak lulus. Karena hakekat pendidikan sesungguhnya adalah bantuan orang dewasa kepada anak-anak agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang disesuaikan dengan karakter dan potensi masing-masing anak. Dan di pendidikan lanjutan inilah anak-anak mulai dibebani dengan berbagai teori/rumus disertai target-target. Bagi anak-anak pintar mereka bisa masuk ke SMA, dan bagi yang kurang, mereka diarahkan untuk masuk ke sekolah kejuruan yang murni mengajarkan ketrampilan dan tanpa teori-teori berlebihan.

III. Kerja sama industri, orang kaya, dan orang pandai
Dunia kerja dan Industri menginginkan SDM yang terbaik, namun mereka enggan mencetak sendiri kader tersebut. Hal ini wajar-wajar dan sah-sah saja namun sekali jelas-jelas diskriminatif dan berkesan mau enak sendiri. Mereka enggan merekrut orang yang memiliki skill nol untuk menjadi ahli. Mereka lebih suka membajak dan membeli yang sudah jadi. Ya inilah hasil budaya instan. Lowongan kerja di Indonesia selalu memperisyaratkan IPK minimal dan pengalaman kerja. Ini salah satu bukti dari diskriminasi yang diberlakukan di dunia kerja dan Industri. Bagaimana seharusnya? Industri hendaknya merekrut minimal 5 – 10 orang yang tidak beruntung: baik itu orang yang tidak memiliki ijazah, orang cacat, atau orang miskin. Mereka dididik untuk melakukan pekerjaan yang paling mudah, beresiko rendah, dan ingat tujuan utamanya untuk mengangkat harkat dan martabat mereka. Demikian pula orang kaya dan cerdik pandai hendaknya berkolaborasi membuat kelompok-kelompok belajar (kejar paket, kelas jauh atau sekolah terbuka). Apabila hal ini dilakukan secara merata di seluruh negeri, Insya Allah Indonesia akan berkembang dengan pesat dalam naungan rahmat dan ridlo Ilahi.

“Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tidak ada yang bisa memilih menjadi anak orang kaya atau anak orang miskin. Tidak ada yang bisa memilih menjadi pintar atau bodoh. Yang berkelebihan hendaknya menutupi saudaranya yang kurang beruntung, karena demikianlah tujuan kita d ciptakan. Harta dan ilmu adalah sekedar titipan, barangsiapa yang bijak menggunakannya maka ia akan beroleh keuntungan sejati. Siapa yang merasa harta dan ilmu hasil jerih payahnya maka sesungguhnya ia telah tertipu. Kemiskinan dan kebodohan yang terjadi di negeri ini berawal dari enggannya si kaya membagi hartanya dan enggannya si pintar membagi ilmunya.”

No comments:

Post a Comment