Tuesday, May 04, 2010

Dakwah menurut para sufi

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Ali Imran : 104

Dakwah kepada orang lain selain keluarga adalah fardhu kifayah, bukan fardhu 'ain. Berbeda dengan kepada keluarga yang sifatnya fardhu 'ain.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. At-Tahrim:66

"Bila seorang mencoba mengatakan sesuatu tentang agama kepada orang lain dengan niat agar dirinya mendapat tempat terhormat di mata manusia, menunjukkan bahwa sesungguhnya orang tersebut belum berhak untuk menyampaikan hikmah. Sesungguhnya maqam orang tersebut adalah pada maqam di bawah yaitu tobat dan memperbaiki dirinya. Allah memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk lebih banyak menghitung dosa, bertobat, memperbaiki diri, meluruskan niat dan amalan daripada berpikir untuk merubah orang lain. Barangsiapa tetap memaksa, maka setan telah menipunya dengan mengatakan bahwa dakwah adalah wajib. Karena bila Allah menghendaki maka seseorang yang harus menyampaikan hikmah, maka dikuatkan tekadnya, dilapangkan jalannya, dicukupkan ilmunya, dan oranglah mendatanginya untuk meminta nasehat bukan dirinya yang menawarkan diri untuk memberi nasehat. Dan itulah dakwah bagi seorang pejalan spiritual. Di dalam Al Quran, kata-kata menyeru kebanyakan ditujukan kepada para Nabi, Rasul dan Malaikat, bukan kepada manusia secara umum.

Meniatkan diri untuk menjadi Da'i bukan ajaran para sufi. Ilmu yang berkaitan dengan materi dakwah adalah buah dari ketaatan, bukan modal untuk diniatkan berbicara kepada orang lain. Dasar perjalanan kaum sufi yang pertama adalah mengenal Allah, yang kedua adalah mendekatiNya, dan yang ketiga menatapNya, dan yang ke empat adalah bermesraan denganNya. Tatapan pejalan spiritual ini sama sekali tidak boleh berpaling sedikitpun oleh godaan dunia. Prinsip-prinsip ini yang sama sekali tidak boleh dilanggar oleh pejalan spiritual, karena apabila dilanggar, maka sesungguhnya dia telah tertipu oleh setan, dan maqamnya turun ke posisi semula yaitu, maqam tobat. Bagi kaum sufi, ibadah adalah bentuk kedisiplinan spiritual yang menyebabkan ke empat hal tadi dapat dicapai. Kesibukan diri ini cukup menyita waktu, dan tidak dianjurkan berdakwah apabila tidak dalam rangka mencegah kemungkaran, dimintai pendapat, atau diminta berbicara.

Karena apabila orang mengetahui ujian yang dihadapi oleh seorang da'i, maka mereka akan cenderung menghindarinya. Rasulullah tidak pernah meniatkan diri menjadi da'i, tapi Rasulullah diperintahkan dan dipaksa oleh Allah. Sedangkan kita bukan Rasul dan tidak menerima wahyu, Insya Allah tugas utama kita adalah memperbaiki diri. Sebagaimana Allah mengatakan bahwa seorang menanggung dosa masing-masing. Hal ini menunjukkan tidak ada beban buat seseorang untuk merubah orang lain, melainkan dalam batas-batas yang ditetapkan oleh Allah. Dari sinilah keikhlasan seorang da'i bisa dilihat dari bagaimana asal muasal dia berbicara kepada khalayak.

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan." Al-An'am:164 

Pada saat da'i berbicara tentang kebaikan dan dia belum melaksanakannya maka da'i ini bisa dikatakan sebagai pembohong, dan pembohong adalah salah satu ciri orang munafik. Demikian pula kelurusan niat, saat seorang da'i melihat enaknya dan mewahnya hidup sebagai da'i, maka da'i ini sudah melenceng dari rahmat ilahi, dan terjerumus kepada kesyirikan, berbuat sesuatu bukan karena Allah, tetap menjual ayat-ayat Allah. walahu a'lam bisawab. Naudzubillah min dzalik

Da'i yang terus memaksakan dirinya untuk berbicara, dan selalu berusaha memperbagus ilmunya semata-mata karena ingin mendapat pengikut yang banyak sudah terjerumus kepada riya'. Setan terus membisikkan kepadanya bahwa dakwah adalah jihad, maka dia harus berjuang untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Dari sinilah jelas bentuk kesesatan, bahwa tujuan dakwah bukanlah mencari pengikuti tetapi mengenalkan Allah dan kebesaranNya. Masalah hidayah adalah urusan Allah. Namun akhirnya sang da'i terjebak kepada hawa nafsu. Tidak sedikit yang terjebak kepada popularitas, mencari harta. Naudzubillah. Ciri-ciri da'i yang sesungguhnya kita saksikan Nabi Saw sendiri, yang meninggalkan seluruh kekayaannya demi menyampaikan ayat-ayat Allah. Tidak ada pamrih apapun untuk menyampaikan wahyu-wahyu dari Allah, selain tekad yang kuat untuk kemaslahatan dan keselamatan umat manusia? Lalu apakah tidak boleh menerima hadiah dari jama'ah? tentu boleh. Tapi kemudian jangan dijadikan rutinitas dan ditentukan tarifnya, dengan berbagai alasan transport, konsumsi, dll..dll...Karena disinilah sesungguhnya ujian seorang da'i. Seandainya dia diundang dalam suatu acara, maka semestinya dia membayangkan umat yang haus akan bimbingan dan pengetahuan agama, bukannya apa yang dia dapat dari dakwah di tempat tersebut. Wallahualam.

Thursday, April 08, 2010

Tipuan Setan

Setan telah diberi tangguh hukumannya hingga hari kiamat kelak, ia dapat melihat kita, masuk ke dalam darah kita, membisikkan hati dan pikiran kita. Kita bahkan tidak memiliki kemampuan melihatnya. Ini adalah kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada setan. Selain itu mereka berumur panjang.

Benar tipu daya setan adalah lemah, namun ada syarat melemahnya tipu daya setan, yaitu:

1. Dzikrullah.
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(Ar-Ra'd)

41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Al Ahzab)

2. Keikhlasan dalam berdzikir.

3. Keikhlasan dalam menerima ketetapan dari Allah.

4. Berbaik sangka kepada Allah.


5. Yakin atas dekat, kuat dan cepatnya pertolongan Allah.



Tipu daya setan menguat saat:

1. Lemahnya amal/ibadah/dzikrullah.

2. Tidak memahami akan ketauhidan sesungguhnya.

255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al Baqarah)


3. Melenceng dalam niat.

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya (Al Maa'uun)

4. Berkeluh kesah (manja).
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (Al-Ma'arij)

5. Berputus asa dari rahmat Allah
87. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Yusuf)

6. Sombong.
23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al Hadiid)

7. Melakukan kemaksiatan.
74. (yang kamu sembah) selain Allah?" Mereka menjawab: "Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tiada pernah menyembah sesuatu." Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir.
75. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). (Al Mu'min)

Sudah menjadi ketetapan Allah bahwa orang-orang yang melakukan hal-hal di atas secara tidak langsung menjatuhkan dirinya pada jebakan setan.


Kesimpulan:

1. Setan sangat kuat saat kita lalai dalam mengingat Allah.

2. Setan melemah saat kita ignat kepada Allah dan banyak berzikir.

3. Perasaan terbebas dari gangguan setan adalah tipuan setan itu sendiri.

4. tipuan terbesar setan adalah merasa diri suci, paling benar, setan tidak mendekat, merasa cukup dengan amal bidah. Orang yang merasa suci adalah orang-orang yang secara spontan jatuh ke dalam kehinaan.

5. Waspadai perasah marah, dendam, rakus, dengki, sok benar, memandang rendah orang lain.

6. Selalu merasa berdosa sehingga akan banyak bertobat.

7. Selalu merasa fakir sehingga akan selalu memohon pertolongan Allah.

8. Menghadirkan Allah dalam hati, lisan dan pikiran. Dzikir sebaiknya dizahirkan, sebagaimana syahadat yang harus disertai ketundukan pikiran, kerelaan hati dan persaksian lisan.

9. Tidak mengambil keputusan dengan kemarahan dan keangkuhan.

10. Minta apapun kepada Allah, meskipun itu hal yang kecil dan remeh. Pernah diriwayatkan bhawa Nabi Musa As meminta garam kepada Allah.

Semoga kita menjadi hamba yang selalu mengingat Allah, dan mewaspadai godaan setan yang terkutuk dan tidak pernah rela manusia selamat di akhirat. wallahualam