Friday, March 09, 2012

Fatwa Dewan Fatwa Al Azhar tentang Syiah/Shiah/Shi'ah/Shiite


Fatwa ini dapat dichek di website : http://www.dar-alifta.org/FatwaAnswer.aspx ketik angka 704135.
Hal ini sesungguhnya juga sudah difatwakan semenjak tahun 1959 seperti terdapat pada: http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Azhar_Shia_Fatwa

Fatwa No:704135

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Akhir-akhir ini kaum muslimin di Indonesia dipanas-panasi oleh suatu isu lama yang dihangatkan kembali yaitu masalah Syiah dan Iran. Saya ingin tahu fatwa resml Azhar tentang Syiah untuk sosialisasi dan bersikap proporsional dalam menghadapinya


Jawaban : Fatwa Dewan Fatwa Al Azhar

Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah adalah kaum muslimin, mereka bukanlah orang-orang kafir. Perbedaan dengan mereka bukanlah perbedaan yang mengharuskan terjadinya perpecahan di saat kaum muslimin dalam kondisi yang sangat berat seperti sekarang ini. Apalagi banyak ulama syiah yang tidak mengambil hal-hal yang terdapat di dalam kitab-kitab mereka yang tidak sesuai dengan pendapat Ahlus Sunnah. Bahkan banyak dari mereka lepas diri dari banyak pendapat Syiah. Oleh karena itu kita tidak boleh memvonis seseorang berdasarkan pendapat-pendapat yang ada di sejumlah kitab mazhab orang tersebut selama dia tidak mengadopsi pendapat-pendapat tersebut. Dan tidak ada masalah bagi orang Syiah untuk beribadah berdasarkan mazhabnya. Namun sangat disayangkan, terdapat sejumlah orang yang suka menggali kitab-kitab klasik Syiah, lalu hanya mengeluarkan hal-hal yang menjadi perbedaan antara kaum Syiah dan Ahlus Sunnah. Tentu ini merupakan kesalahan besar. Ini juga merupakan kezaliman terhadap orang Syiah yang tidak mengambil pendapat tersebut. Sedangkan upaya merusak hubungan antara Ahlus Sunnah dengan Syiah hanya menguntungkan pihak-pihak lain yang tujuannya menghancurkan kesatuan umat Islam dan melemahkan mereka.

Adapun ibadah orang Syiah berdasarkan fikih mereka yang tidak bertentangan dengan hal-hal yang menjadi ijmak umat Islam adalah dibolehkan. Syekh al-Azhar terdahulu, Mahmud Syaltut, menfatwakan bahwa Syiah adalah salah satu kelompok dalam tubuh umat Islam yang memiliki fikih tersendiri yang diakui. Mazhab Syiah juga menjadi salah satu mazhab yang diakui di al-Azhar asy-Syarif. Karena, umat Islam adalah satu tubuh, tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syiah selama keduanya melakukan shalat yang sama dan menghadap kiblat yang sama juga. Ditambah lagi, mereka dari dahulu merupakan bagian yang tidak terpisah dari umat Islam, walaupun jumlah mereka hanya sedikit, tidak mencapai 10% dari seluruh kaum muslimin.

Para tokoh ulama Syiah dalam sejumlah seminar dan konferensi menegaskan bahwa melaknat shahabat dan Khulafaur Rasyidin, khususnya Abu Bakar, Umar dan Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah, bukanlah bagian dari mazhab Syiah, akan tetapi ia merupakan ajaran luar yang sudah lama yang masuk ke dalam ajaran Syiah. Menurut mereka hal tersebut tidak ada di dalam kitab-kitab Syiah yang diakui. Di samping itu, pernyataan adanya distorsi atau penyimpangan di dalam Al-Qufan merupakan pernyataan batil yang diingkari oleh para imam Syiah. Kemudian prinsip 'ishmah (terjaga dari dosa) untuk para imam mereka tidaklah sama dengan konsep 'ishmah (terjaga dari dosa) yang dimiliki para nabi, namun yang mereka maksud adalah penjagaan Allah terhadap para wali-Nya. Kemudian konsep bidaa yang terdapat dalam ajaran Yahudi tidaklah sama dengan konsep bidaa dalam Syiah, akan tetapi yang mereka maksud adalah qadha yang tergantung (al-qadar al-mu'allaq) sebagaimana dalam ajaran Ahlus Sunnah atau nasakh (penghapusan hukum).

Pemaparan ini bukan bermaksud untuk membenarkan hal-hal yang ada di dalam kitab-kitab Syiah yang tidak sejalan dengan keyakinan Ahlus Sunnah. Ini juga bukan seruan kepada orang-orang Ahlus Sunnah untuk beribadah dengan Mazhab Syiah. Namun yang kami lakukan adalah mengajak kaum muslimin untuk menyatukan barisan dengan mendekatkan antar mazhab serta mengakui ibadah mazhab lain sesuai dengan ijtihad mereka, bukan mengajak orang-orang untuk mengikuti Syiah. Tentu terdapat perbedaan yang jelas antara kedua hal ini.


Sunday, February 26, 2012

Ini Era Sahibul Kahfi teman !

13. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. 
14. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran." 
15. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Al Kahfi)
16. Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu

Pada saat kita membaca surat Al Kahfi, maka imajinasi kita akan terbawa suatu kondisi dimana orang-orang yang hidup di masa itu adalah penyembah-penyembah berhala, suatu era yang tidak ada saat ini dan tidak pernah terbayangkan terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Benarkah demikian? Saya sendiri melihat bahwa kehidupan saat ini sangat memenuhi syarat seperti apa yang terjadi pada masa sahibul kahfi. Hanya memang kondisinya sangat samar.

Siapakah tuhan-tuhan baru saat ini? Mereka adalah: aneka aliran sesat, agama-agama syirik, hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, pemuasan keinginan, uang, kekuasaan, takut mati, takut miskin, bos-bos pemilik uang, bos-bos pemilik kekuasaan, sistem kerja, sistem pemerintahan, penghambaan atas nama kedisiplinan dan loyalitas, ahli-ahli agama yang mengikuti hawa nafsu. Perhatikan di pagi hari setiap orang berusaha melakukan aktivitas karena mengikuti sebuah sistem dimana mereka harus pergi bekerja, bersekolah, di jam yang sama? mereka terlihat sungguh-sungguh dan penuh didedikasi, dan ketakutan melebihi pengabdian mereka kepada Tuhan, mereka tidak bisa pergi dan pulang seenaknya, karena mereka diancam sangsi administratif. Apabila mendengar ajakan ibadah, maka ada kecenderungan menunda atau meninggalkan karena mereka beranggapan sangsinya belum tentu ada. Apakah mereka bukan orang Islam? Mereka adalah orang-orang Islam yang kerakusan sebagaimana orang-orang kafir bahkan lebih.

96. Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah)

Apakah kita harus lari ke dalam gua-gua  secara harafiah? Tentu tidak, ditengah masyarakat yang membebaskan kita untuk beribadah, gua-gua itu bukanlah gua-gua di bukit atau gunung. Gua itu adalah tempat dimana kita bisa menghindari kerumunan orang-orang yang sibuk memperebutkan dunia, suatu tempat dimana kita banyak ritual pribadi. Keluar hanya untuk keperluan-keperluan wajib, seperti mencari nafkah, berbelanja dan segala kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang wajib. Orang-orang yang berdalih mencari nafkah, menolong sesama, membawa kepada kemaslahatan yang lebih besar, melakukan perbaikan dan berbagai macam alasan,  dimana sesungguhnya terjadi adalah  mereka masuk kepada suatu jebakan mutakhir yang sesungguhnya dibuat dari jebakan lama, (harta, kekuasaan, kebanggaan diri/kesombongan) berubah menjadi serigala-serigala lapar yang siap memangsa. Perhatikan ustadz-ustadz yang masuk ke dalam parlemen, sebelumnya mereka diharapkan memberikan perbaikan kepada sistem parlemen kita, boro-boro memberikan perubahan yang terjadi adalah mereka (ustadz2) tersebut yang menjadi setan-setan baru, dan enggan untuk turun dari tampuk kekuasaan. Bila akan digantikan mereka akan berdalih bahwa partai butuh orang yang berpengalaman. Perhatikan orang-orang yang bersosialisasi dengan alasan silaturahmi, berapa banyak yang tersesat karena terlalu banyak organisasi dan forum silaturahmi, berapa banyak kebohongan dan fitnah yang keluar dari mulut agar bisa diterima oleh komunitas?, perzinahan, kholwat, menghambur2kan uang, menyia-nyiakan waktu dengan alasan silaturahmi, soasialisasi? Silaturahmi dianjurkan, namun semua mengenal batas. Silaturahmi dengan tetangga, kerabat, adalah hal-hal yang diutamakan, sedangkan kepada pihak-pihak di luar itu sudah tidak ditekankan lagi alias kalo memang punya waktu sisa.

Apa sungguhnya batas-batas kita telah terjebak?
1. Sering berada di luar rumah bersama orang lain dibanding dengan keluarga.
2. Mulai meninggalkan kewajiban.
3. Banyak sendagurau dibandingkan zikir.
4. Jarang silaturahmi dengan tetangga dan kerabat (yang lebih utama).
5. Sering menghamburkan uang untuk rekreasi, makan, bersantai bersama teman dibanding keluarga.

Apa beda perilaku sahibul kahfi dengan membiara/mengasingkan diri?

Sikap sahibul kahfi:
1. Didasari kepada ketakwaan dan mengharap ridho dari Allah.
2. Sikap penuh kerendahatian akan kemampuan diri yang tidak mampu menghadapi fitnah-fitnah dunia.
3. Suatu sikap defensif terhadap fitnah dunia.
4. Melaksanakan ketaatan dalam keramaian maupun saat sendiri.
5. Ikhlas dalam melaksanakan ketaatan, karena rasa takut kepada Allah.

Sikap membiara:
1. Dikotori sikap riya', cirinya: menonjolkan penampilan dan cara berpakaian.
2. Melanggar perintah agama tentang kewajiban mencari nafkah bagi kepala keluarga.
3. Seakan-akan taat, namun hatinya tersiksa, melaksanakan ketaatan yang terlihat manusia, bermaksiat saat sendiri.

Tanda-tanda Era Sahibul Kahfi:
1. Orang mengaku Islam, Iman membuat aturan sekaligus melanggarnya.
2. Orang banyak berbicara tentang orang lain, namun dirinya sendiri tidak diperbaiki.
3. Orang ahli maksiat menuduh orang lain melakukan maksiat (maling teriak maling).
4. Nasehat agama hanya sekedar hiburan, pelipur lara, menghilangkan stress, rekreasi.
5. Orang tidak sungguh-sungguh belajar agama sebagaimana belajar ilmu dunia.
6. Orang suka menasehati, namun dirinya sendiri tidakmelaksanakan.
7. Stress melihat kemaksiatan namun merasa perlu terus mendakwahi orang lain karena berpikir itu juga merupakan tanggung jawab dirinya. Sehingga dayanya habis, dan obyek dakwahnya tidak berubah sedikitpun, akhirnya menghancurkan diri sendiri, sebagaimana sifat lilin yang menyinar sekitarnya dengan cahaya rendah, sementara, akhirnya kembali gelap, dan lilinnya ikut musnah. Inilah yang banyak dihindari oleh para ulama besar.
8. Agama hanya bahan diskusi, meninggikan diri dan kelompok, mencela orang lain, namun minim pelaksanakan.
9. Puas dengan ilmu agama yang sedikit.
10. Beragama mengandalkan logika, metode barat, literatur. Meninggalkan kebiasaan ulama terdahulu, yang mengandalkan hafalan Quran, hafalan hadits, hafalan kitab, dan guru-guru yang sholeh.
11. Agama diperbincangkan,