Tuesday, December 30, 2008

Ketetapan dan Kehendak Allah

Banyak yang mencampuradukkan pengertian antara ketetapan Allah yang biasa disebut dengan sunatullah dan kehendak Allah yang biasa disebut hidayah, rahmat, karunia, mukjizat.

Ketetapan Allah adalah semua hukum-hukum Allah yang sudah menjadi aturan logis sejak diciptakannya alam semesta. Air membeku pada suhu 0 derajat, air sangat padat pada suhu 4 derajat, bumi mengitari matahari dst..dst...

Kehendak Allah adalah hasil dari suatu kejadian yang telah dilalui seorang manusia yang sesungguhnya hasil dari ketetapan-ketetapanNya yang telah terjadi. Ketetapan Allah, misalnya: api sifatnya membakar, orang dibakar/terbakar akan hangus, kehendak Allah bisa berkata lain, ada orang yang hangus adapula yang tidak (Ibrahim), ketetapan Allah adalah laut tidak mampu dibelah dengan tongkat, namun Allah menghendaki bahwa tongkat Musa mampu membelah laut. Dalam keseharian kita. Sunatullahnya orang bekerja akan mendapat hasil yang sebanding dengan kerja kerasnya, namun banyak orang bekerja sangat keras mendapat hasil sedikit, dan orang malas dan kufur mendapat hasil banyak, ini juga merupakan kehendak Allah.

Allah selalu mengawasi ciptaanNya, apabila sesuatu itu terjadi berarti atas seijinNya dan sesuatu itu tidak terjadi atas seijinNya pula.

"Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (al-An'aam: 59)

"Allah Yang Mahaagung dan Mahamulia telah menetapkan bagi setiap hamba di antara ciptaan-Nya empat hal: kematiannya, tindakannya, tempat tinggal dan tempat ia berpindah, serta makanannya." (HR Tirmidzi)

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (al-Hadiid: 22).

Ketauhidan ini tidak mampu dijangkau oleh agama lain, di dalam Islam sangat ditekankan bahwa Allah menciptakan semua yang nampak maupun tidak nampak dengan ketelitian yang sempurna dan diawasi dari awal hingga akhirnya. Tidak ada peristiwa yang berjalan dengan sendirinya meski itu reaksi berantai, semuanya terawasi dan terkontrol. Cicak makan nyamuk, semut bertelur, wabah menular, semua diawasi dan dikontrol. Pengawasan dan kontrol yang menyebabkan dunia tetap eksis. Hitler, firaun, julius caesar berniat menguasai dunia, tapi karena kontrol bukan dari mereka, tidak akan pernah bisa mereka menguasai tanpa ijin Allah, nafsu dan kekuasaan mereka dibatasi oleh Allah. Logikanya virus flu burung, demam berdarah, malaria, dan berjuta jenis penyakit dapat menghabiskan masyarakat Indonesia dalam hitungan hari namun penyebaran nampak sangat terkontrol, pemerintah mengontrol?? (yang bener aja).

Membaca ketetapan Allah berarti kita sedang melihat kebesaran ciptaan Allah. Akallah (semestinya) alat untuk memahami ketetapan Allah di alam semesta ini sekaligus menetapkan pada diri seorang hamba bahwa ada keterlibatan yang Maha Sempurna di alam semesta ini.

Kehendak Allah agak lebih sulit dipahami dengan akal, kehendak Allah hanya dapat dipahami dengan hati yang telah tunduk (Islam). Hambatan akal sering menjadi penghalang seorang Islam untuk memahami kehendak Allah. Padahal semakin kita mendekatkan diri kepada Allah maka kita tidak melihat musibah sebagai suatu ujian yang memberatkan tetapi suatu pertolongan yang menyelamatkan.

Karena cinta kasih Allah kepada kaum beriman, maka kehendak Allah terhadap para kekasihnya ini berupa hal-hal yang menyakitkan dan terkadang tidak mengenakkan. Di titik ini pula orang sering menemukan apa yang disebut stress. Mengganggap Allah musibah melulu sebagai suatu hukuman dan mengintrospeksi kesalahan bla..bla..bla..yah..yah boleh saja, ...tapi pahamilah bahwa musibah adalah sebagai bentuk kalibrasi ulang sensor kenikmatan dari Allah. Kita diberi sakit supaya paham rasanya sehat, kita diberi kekurangan harta benda supaya bisa merasakan nikmatnya mendapat rejeki dsb..dsb..
Stress disebabkan akal yang sudah mencapai ujung kemampuan namun masih terus dipaksa untuk berpikir. Padahal kalau kita sadar dengan ketetapan dan kehendak Allah, kita tidak perlu berpikir saat pikiran sudah buntu, cukup duduk, sebut namaNya, agungkan, salawat kepada Nabi dan serahkan masalah tersebut kepada Allah....semudah itu...semudah itu teman...Habis itu lupakan dan biarkan kita berjalan dan berbuat seperti yang diilhamkan setelah melakukan ritual tersebut.

Kita sering mendengar ..keajaiban...mukjijat...namun sayangnya hanya kita temukan saat kondisi dipaksa pasrah, seperti menghadapi kematian akibat penyakit, atau lainnya. Padahal setiap hari kita penuh keajaiban dan penyelematan, saking biasanya sampai2 kita tidak pernah menganggap itu keajaiban.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216) 
 
"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yunus: 107)

Allah pasti Mengabulkan doa hambaNya?

“186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. .” (Surah al-Baqarah : ayat 186)


Sebagai orang yang beriman kepada Al-Quran maka pernyataan Allah tersebut adalah

1. Dari sudut pandang tasawuf, doa selalu dikabulkan saat telah dibacakan hanya Permasalahnya adalah jawaban doa itu dalam bentuk yang tidak kongruen dengan permintaan kita dan kadang berserakan dalam keseharian kita. Ibarat kita minta makan kepada seseorang namun orang itu memberi kita cangkul. Bagi orang yang cerdas secara spiritual pertanda itu akan mudah dia baca. Inilah ranah wilayah orang yang bertasawuf, selalu waspada terhadap doa yang ia baca, dan bentuk balasan yang ia terima.

2. Bagi kelompok umat Islam yang merasa bahwa doanya tidak/belum di ijabah karena mereka berpikir bahwa Allah harus memberikan dalam bentuk yang sama dengan yang diminta, maka sesungguhnya mereka belum faham ayat-ayat Allah tentang penciptaan dan keterkaitannya satu sama lain. Seandainya minta makan harus memberi makan, minta uang harus memberi uang, minta kematian si X harus mati, minta keadilan bagi si C harus dihukum saat itu, maka Insya Allah dunia ini hancur dalam sekejap/atau surga karena apa yang diminta langsung dikabulkan. Tidak ada orang bekerja, berusaha, aktifitas, semua tinggal bersenang-senang.
http://wahjoe.blogspot.com/2008/09/doa-diujung-asa.html

Mari kita lihat contoh kondisi kita sekarang yang mungkin dalam kondisi miskin papa tidak berharta. Kita mohonkan kepada Allah harta yang banyak dan sampai hari ini kita tidak diberi harta yang banyak itu. Kasih Sayang Allah melampaui pendeknya akal manusia, Allah tidak ingin menjadikan kita Qorun dan Tsa'labah jilid 2,3,4,5 dst, diberikannya kita bentuk yang lain berupa, keislaman, keimanan, rasa syukur, anak yang lucu, keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, kesehatan yang tidak dimiliki orang lain, dst...dst yang tak terhingga kalau dihitung. Orang yang berpikir materialistik akan cenderung kufur dan terus akan menggunakan akalnya untuk mencari tahu mengapa doanya tidak pernah/belum dikabulkan. Disinilah para penempuh jalan spiritual/sufi waspada, mereka akan menghitung apa yang Allah berikan pada hari ini, dan kemudian terus dan terus mereka tiada putus bersyukur sebanyak denyut jantung yang bahkan ia tidak dapat mengaturnya, sebanyak nafas yang ia hembuskan, sebanyak sehatnya bagian dari tubuhnya, sebanyak sel-sel yang bekerja sesuai fungsinya dst..dst.
Sufi dengan maqam tertentu bahkan hanya memuji kepada Allah dan permintaannya hanya,
"Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kami daripada diri kami sendiri dan kepadaMulah semua urusan dikembalikan".

Berdoa adalah suatu bentuk zikir dan penghambaan. Berdoa menunjukkan lemahnya diri kita dan perkasanya Allah SWT. Allah sangat menyukai kesadaran seperti ini. Dan tidak suka kebalikannya. Jadi jangan pernah putus asa dalam berdoa, namun hati-hatilah dalam berdoa, karena doa yang kita ucapkan akan selalu dikabulkan dalam berbagai macam bentuk dan manifestasinya dalam kehidupan. Mintalah doa-doa yang tidak akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Contoh doa Nabi favorit saya adalah :
http://wahjoe.blogspot.com/2008_02_01_archive.html

Doa-doa yang memang diharapkan umumnya kaum muslimin, dan terserah Allah yang secara detail memberikan skenarionya. Wallahualam