Tuesday, October 22, 2019

Sederhana Memahami Takdir (bag2)



Hidup yg dianggap nyata ini adalah permainan dan dunia game yang  serius,  yang Allah ciptakan untuk menguji hambaNya. Informasi ini dibawa oleh seorang utusan/Nabi. Ini adalah konsep dasar yang harus dijadikan pegangan dasar bagi seorang muslim, dimana pemahaman dan pengakuan hati ini harus dinyatakan dalam bentuk eksplisit ucapan syahadat. Pun bagi orang yg belum paham dengan konsep ini, apabila yakin saja bahwa Pencipta semua ini adalah Allah maka cukuplah dia mendapatkan pertolongan.....

Kita manusia, tidak bisa mengubah apa yang Allah berikan dalam alam fisik/lahir (rupa, harta, karier, jabatan,pasangan, anak.dst Meskipun bisapun membutuhkan proses yang panjang dan izin dari Allah) namun manusia dapat mengubah apa yang ada dalam hati, seperti iman, cinta, benci, kufur, taat kepada Allah kapanpun mereka mau. Dan kesadaran hati ini diwujudkan dalam bentuk ketaatan. Dan disinilah kunci kesuksesan seorang hamba dalam menggapai keridhoan Allah Sang Pencipta. Dalam terminologi agama disiplin ilmu yang membicarakan wilayah hati ini disebut tasawuf. Maka apabila ada orang yang secara sembarangan mengharamkan ilmu tasawuf sama dengan menutup dirinya dari pintu utama menuju kepada Allah, dan mereka harus bersusah payah melewati pintu-pintu kecil syariat yang dibatasi oleh keadaan fisik.

Bagaimana dengan akal/pikiran? Allah mengilhamkan ide, gagasan, mood dalam pikiran semua manusia, sehingga disinilah ilmuwan menemukan rumus/teknologi, A mencintai B,  dst. Namun di wilayah ini adalah ujian terbesarnya, karena manusia dididik dari kecil untuk mempercayai akalnya, di alam pikiran bermain juga halangan2 yaitu nafsu dan setan.  Dimana mereka akan selalu menghalangi manusia dari ketaatan (kesadaran hati akan Allah). Dalam terminologi agama disebut sebagai lalai.(يلههم). Juga pikiran yang dituntun nafsu akan selalu dituntut untuk memenuhinya. Indikator nafsu menguasai adalah enggan bahkan benci kepada ketaatan. Jadi melawan nafsu adalah selalu melakukan dari yang berlawanan, seandainyapun mengikuti lakukan sekedarnya, misalnya makan, niatkan sekedar mengikuti perintah utk menegakkan badan agar bisa beribadah, mengikuti nafsu mengejar kuliner khusus yang jauh dan membutuhkan energi dan pengorbanan yan besar.

Allah SWT berfirman:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ  ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya)."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 3)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Jadi pikiran adalah wilayah yang diperebutkan oleh hati yang tunduk pada aturan Allah, atau nafsu yang ditunggangi setan. Siapa yang berkuasa biasanya akan tampak pada lahirnya, meskipun tak selalu demikian. Kenapa tak selalu? Karena bila setan sdh menutup dan merusak hati maka seorang ulamapun akan nampak indah zahirnya namun rusak niatnya/hatinya. Oleh karenanya ulama tasawuf seperti: Imam Ghozali, Abu Hasan AsySyadzili, Ibn Ataillah AsSakandari membedah tuntas kondisi-kondisi hati/batin ini agar manusia tidak tertipu oleh nafsu lawamah dan amarah yang buruk....naudzubillah mindzalik.


Jadi jangan terlalu tegang dalam dunia game ini, krn asal kita dari surga. Dalam surga perkara dunia yang hilang bisa dikembalikan bahkan lebih. Namun bila perkara akhirat hilang di dunia maka ia tak bisa kembali. Jangan lengah dengan hal ini.

wallahua'lam.

No comments:

Post a Comment