Friday, May 21, 2010

Pengajaran-pengajaran Ibn Athaillah dalam Al Hikam (2)

"Pokok dari tiap-tiap maksiat adalah lupa kepada Allah, dan rela mengikuti syahwat yang berasal dari hawa nafsu. Pokok dari setiap ketaatan, kesadaran dan menjaga diri dari syahwat adalah tidak relanya dirimu mengikuti hawa nafsu."

Orang-orang yang makrifat sepakat bahwa pokok timbulnya perbuatan maksiat adalah berpalingnya hati dan pikiran dari selain Allah. Karena selalu menuruti nafsu menyebabkan seseorang tidak lagi mampu melihat keburukan dari perbuatan tersebut. Orang yang terbiasa mabuk akan menganggap hal tersebut adalah 'kewajaran' belaka, tidak ada rasa penyesalan, kesedihan, malu, takut azab, karena memang hatinya sudah tertutup dengan kotoran maksiat. Orang yang hatinya sudah tertutup kotoran maksiat ini, menganggap benar apa yang dilakukannya dan menuduh orang lain yang salah. Pada kondisi ini tidak mungkin cahaya Allah masuk ke dalam dirinya. Sebagian pelaku maksiat ini kadang berpikir bahwa apa yang diperbuatnya tidak seberapa dibanding amal ibadah lain yang dilakukannya. Inilah bisikan syetan yang slalu bergema ditelinga pelaku maksiat. Secara perlahan namun pasti orang-orang ini disesatkan dan terus disesatkan oleh syetan hingga meninggalkan seluruh ibadah. Perbuatan ini tidak dapat disembuhkan dengan ibadah apapun sebelum dilakukan tobatan nasuha. Orang yang ingin kembali harus mutlak bertobat dan meninggalkan semua bentuk kemaksiatan.

Bila kita melihat banyak pihak pada hari ini menghubungkan antara ketaatan dalam beribadah dengan kesuksesan dan kekayaan, maka bagi orang makrifat hal itu adalah tipuan terbesar dari syetan. Orang makrifat sangat mengenali tipuan lama yang dibungkus dengan bentuk baru ini. Orang yang menukar ketaatan dalam beribadah dengan mengharapkan imbalan kesuksesan dan kekayaan adalah orang-orang bodoh. Karena pandangan, tujuan, dan dasar semua ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata. Meskipun konsep yang disebutkan di atas tidak salah 100%. Mengapa demikian? Allah telah memberikan ketetapannya bahwa orang yang taat akan balas dengan kenikmatan di dunia dan di akhirat. Namun sesungguhnya hal ini merupakan motivasi dasar, dimana ketaatan kepada Allah, akan mendapatkan langsung dari Allah. Semestinya itu bukan tujuan tapi bonus atau buah dari usaha untuk taat kepada Allah. Dan tujuan utamanya adalah menjumpai Allah Sang Terkasih.

Karena sesungguhnya sukses dalam arti kekuasaan, pangkat, jabatan dan popularitas adalah fitnah dunia yang harus ditinggalkan. Orang yang hatinya terikat pada dunia tidak akan pernah menapaki jalan spiritual. Karena secara otomatis ketaatannya selalu dikaitkan dengan keuntungan instant yang disaksikan dan didapatkan di dunia ini.

Mengetahui seluk beluk nafsu itu wajib, sehingga kita akan terus waspada akan pergerakannya. Di antra sifat-sifat nafsu itu adalah nafsu ammarah, yaitu nafsu yang selalu condong kepada watak badaniyah. Yang selalu memperturutkan kelezatan dan syahwat: makan, tidur, menonton hiburan, pesta, yang dilakukan dan disalurkan secara tidak syah maupun berlebihan.
7 Macam nafsu amarah.
1. Syahwat.
2. Marah.
3. Sombong.
4. Dengki.
5. Merasa paling utama.
6. Tamak.
7. Riya'

Sifat-sifat buruk ini bisa dilawan dengan ketaatan dalam beribadah dalam semua keadaan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, kesabaran menghadapi ujian, sungguh-sungguh dalam melakukan segala hal. Sombong dan tamak dilawan dengan Qana'ah, sifat ini tidak bisa dipelajari dengan teori tapi harus berasal dari perenungan tentang kejadian sehari. Orang yang qana'ah mampu melihat bahwa setiap kejadian dapat terjadi karena ijin dari Allah. Sekeras apapun usaha manusia mendapatkan sesuatu bila Allah tidak mengijinkan maka tidaklah akan tercapai. Sebaliknya tanpa mengusahakan sesuatu bila, Allah berkehendak, maka terjadilah sesuatu. Orang qana'ah sangat mengetahui aspek ini sehingga dia tidak melakukan atau menghindari sesuatu karena takut rejekinya kurang.

Nafsu yang diberi rahmat oleh Allah adalah nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang menyebabkan hati terang dalam melihat jalan ketaatan. Adapun sumber ketaatan adalah kemampuan untuk mengikuti ajakan nafsu dan syahwat. Keengganan ini menghasilkan semua ketaatan dan akhirnya ia akan menjadi orang yang makrifat.

Keberhasilan di dalam mencapai ketaatan ada 3 sebab, yaitu:
1. Takut kepada Allah, baik dalam keramaian maupun kesunyian.
2. Rela akan ketetapan Allah.
3. Dibebankan pada semua makhluk dalam semua keaadan.

Monday, May 17, 2010

Pengajaran-pengajaran Ibn Athaillah dalam Al Hikam (1)

"Allah yang Haq itu tidak tehalangi (tertutup). Sesungguhnya yang terhalang adalah kamu dari melihat kepadaNya. Sebab seandainya ada sesuatu yang menghalangiNya, pastilah Allah tertutup. Setiap yang menutup harus lebih besar. Sedangkan Allah adalah Zat yang Menguasai semuanya." (Ibn Athaillah)

Sesungguhnya Allah tidak tertutup. Seandainya manusia tidak bisa melihat kepadaNya karena adat tutup yang menutupi manusia, bukan Allah. Jika seseorang ingin sampai kepada Allah, serta masuk kehadiratNya, pertama-tama dia harus mencari cela dirinya. Kemudian mengobati cela itu. Dengan banyak bertobat, menjalankan ketaatan, dan menyingkirkan keburukan dari dalam hati dan perbuatannya. Dengan mengobati cela maka tabir penghalang lambat laun akan terbuka.

Tiada yang mampu menghalangi Allah karena Dia Maha Besar. Kalau sesuatu menutupiNya mka sesuatu itu harus lebih besar, sedangkan tidak ada yang lebih besar dari Allah. Maha Suci Allah dari kekurangan.

Apabila Allah menghendaki menghilangkan tabir yagn menutupi manusia kepada siapa saja yang dikehendakiNya, niscaya orang itu akan bisa melihat Zat yang tidak ada sesuatupun yang dapat menyamaiNya. Dialah Allah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Setiap muslim harus beritikad kuat untuk melihatNya.


"Keluarkanlah dari sifat-sifat kemanusiaanMu yang buruk dari setiap sifat yang dapat merusak sifat penghambaanMu agar kamu dapat menyambut panggilan Allah yang Haq, dan hadiratNya lebih dekat."

Tidak akan pernah sampai kepada Allah orang yang memiliki sifat tercela, seperti: ujub, riyaa', takabbur, dengki dan sejenisnya. Orang-orang yang merasa menempuh jalan spiritual tapi belum bisa meninggalkan sifat-sifat buruk akan tersaring menuju tingkatan berikutnya, dan kembali ke tingkatan awal, yaitu tobat. Jadi orang-orang yang memiliki maqam spiritual yang tinggi akan jauh dari sifat-sifat buruk dan tercela.

Cara membuang sifat-sifat buruk tersebut adalah dengan riyadah (latihan yang keras dan sungguh-sungguh), istiqamah, dan menukarnya dengan segala macam bentuk ketaataan yang terhampar bak hidangan.

Lawan dari sifat-sifat buruk sda adalah tawadhu' (rendah hati), khusyu', bersikap santun, dan ikhlas dalam semua ibadah. Maka ketika ada undangan secara samar dari Allah, niscaya dia dapat menerima, memahami dan menyambut undangan tersebut dengan baik.

Friday, May 14, 2010

Kedisiplinan Pejalan Spiritual Pemula

Pejalan spiritual memiliki tahapan-tahapan yang harus dilalui sesuai dengan kondisi yang diberikan kepada Allah saat ini. Setiap pejalan memiliki jalur yang berbeda dalam pendekatan. Dalam perjalanan spiritual, pelaku (salik) tidak usah memaksakan dirinya untuk melakukan hal-hal yang tidak diberi kepadanya kelapangan. Karena pada tingkatan awal ini, sangat buruk apabila melakukan pemaksaan. Pemaksaan terhadap suatu bentuk ketaatan bisa jadi tidak berbuah baik, malah akan menimbulkan jera. Oleh karena itu, setiap mursyid mengajarkan hal-hal yang sederhana. Ibnu Athaillah, menyukai jalan dzikir sebagai jalan yang terdekat, termurah, terhemat, termasukakal untuk dilakukan oleh semua salik. Hingga yang terberat adalah beruzlah meninggalkan semua kenikmatan, karena berharap kenikmatan tentang perjumpaan dengan Allah. Uzlah ini adalah titik balik seorang salik menuju perjalanan yang lebih tinggi lagi.

Hal-hal yang bisa dilakukan oleh para salik di Indonesia tercinta ini adalah sederhana hingga terberat:
1. Meninggalkan larangan secara mutlak.
2. Mulai menjaga amalan wajib.
3. Dzikir yang tiada pernah putus.
4. Mengupayakan amalan sunnah: sholat, puasa,
5. Menjaga lisan dari berkata sia2, bohong, basa basi
6. Banyak meminta kepada Allah hingga urusan2 kecil.
7. Melihat segala sesuatu dari sisi baiknya meskipun yang terlihat itu buruk.
8. Menghindari merendahkan orang, bahkan penjahat/orang gila sekalipun.
9. Memperbanyak mengucapkan salam dan bertegur sapa.
10. Tidak mengawali pembicaraan kejelekan orang lain dengan alasan apapun.
11. Mengusahakan makan-makanan yang baik saja, secukupnya, dan menahan dari makan berlebihan, ngemil atau jajan, merokok semampunya. Orang yang banyak makan selain mudah ngantuk, akan mendatangkan penyakit, dan mulut yang mengunyah biasanya susah berzikir.
12. Menahan pandangan yang tidak berguna, yang mengotori hati, pikiran, dan telinga. Menonton hiburan, main game yang menyebabkan lalai mengingat Allah, melihat berita yang membuat kesal dan marah, mendengar pergunjingan dan seterusnya.
13. Mengganti waktu tidur dengan memperbanyak ibadah, seperti membaca Al-Quran, berdzikir, menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan dzikrullah dan yang paling utama adalah bertobat.
14. Cepat memaafkan dan tidak mendendam kepada apapun dan siapapun.
15. Hormat, santun, dan baik terhadap orang lain.
16. Menghargai kehidupan lain disekitarnya: flora dan fauna.

Apabila hal-hal di atas sudah bisa dilakukan maka seseorang sudah siap memasuki jalan spiritual. Apabila masih jauh, maka seseorang belum bisa dikatakan telah memasuki jalan spiritual. Atau apabila menemukan seorang yang merasa/mengaku/berpenampilan alim tetapi masih pelanggaran atau belum mengamalkan poin-poin sederhana di atas, maka masih jauh dari perjalanan spiritual.

Apa maunya Allah terhadap kita?


25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Al Anbiyaa')


56. Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. (Al Ankabuut)

92. Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (Al Anbiyaa')



1. Hal pertama yang dimaui oleh Allah dari hambanya adalah PENGAKUAN.
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. (Al Ikhlas:1)
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa':14)

2. Hal kedua, adalah PENGABDIAN. Pengabdian ini meliputi mengikuti perintah dan menjauhi larangan.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-Dzariyat:56)

3. Hal ketiga, adalah KETERGANTUNGAN.
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (Al Fatihah)

4. Hal keempat, adalah PENDEKATAN.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maidah:35)

Pengakuan pada hal yang tidak terlihat secara fisik adalah hal yang sangat rumit, dan inilah adalah ujian manusia yang pertama. Setelah harus mengakui yang tidak terlihat harus mengakui pula hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti mengakui para utusan, mengakui kitab, malaikat, dan qadha dan qadar. Hal ini menyebabkan banyak manusia tersaring perjalanan spiritualnya. Sesungguhnya hanya dibutuhkan sedikit usaha, dan kesabaran dalam melalui perjalanan spiritual ini.

Dalam iman islam, pengakuan ini sudah sanggup menyelamatkan manusia dari hukuman. semakin meningkat maka tingkatan keimanan seorangpun makin menanjak. Dan sampai pada pendekatan maka batas-batas kedekatan ini tidak ada yang mampu mendefinisikan kecuali diri seorang hamba dan Allah. Seorang pejalan spiritual akan selalu haus dengan petunjuk, dan Allah akan menambah petunjuk demi petunjuk itu.

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya. (Maryam:76)

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (Muhammad:17)

wallahualam

Tuesday, May 11, 2010

Penghamba Syetan Terjungkal Alkohol

Ratusan nyawa umat Islam sudah terjungkal sia-sia dalam keharaman alkohol. Namun demikian kuat syetan menghunjamkan pengaruhnya kepada para pengikutnya ini. Hebatnya lagi dengan sadar mereka meramu minuman dengan bahan beracun, seperti kerbau dicocok hidung melakukan hal-hal bodoh tak masuk akal. Sehingga makin nampaklah bagaimana janji syetan untuk menyesatkan manusia


..............119. dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya,(AnNisaa)...


219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (Al Baqarah)

90. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maidah)

91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (Al Maidah)


118. yang dila'nati Allah dan syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), (An Nisaa)

119. dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya." Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.(An Nisaa)

120. Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.(An Nisaa)

121. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.(An Nisaa)

Tuesday, May 04, 2010

Dakwah menurut para sufi

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Ali Imran : 104

Dakwah kepada orang lain selain keluarga adalah fardhu kifayah, bukan fardhu 'ain. Berbeda dengan kepada keluarga yang sifatnya fardhu 'ain.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. At-Tahrim:66

"Bila seorang mencoba mengatakan sesuatu tentang agama kepada orang lain dengan niat agar dirinya mendapat tempat terhormat di mata manusia, menunjukkan bahwa sesungguhnya orang tersebut belum berhak untuk menyampaikan hikmah. Sesungguhnya maqam orang tersebut adalah pada maqam di bawah yaitu tobat dan memperbaiki dirinya. Allah memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk lebih banyak menghitung dosa, bertobat, memperbaiki diri, meluruskan niat dan amalan daripada berpikir untuk merubah orang lain. Barangsiapa tetap memaksa, maka setan telah menipunya dengan mengatakan bahwa dakwah adalah wajib. Karena bila Allah menghendaki maka seseorang yang harus menyampaikan hikmah, maka dikuatkan tekadnya, dilapangkan jalannya, dicukupkan ilmunya, dan oranglah mendatanginya untuk meminta nasehat bukan dirinya yang menawarkan diri untuk memberi nasehat. Dan itulah dakwah bagi seorang pejalan spiritual. Di dalam Al Quran, kata-kata menyeru kebanyakan ditujukan kepada para Nabi, Rasul dan Malaikat, bukan kepada manusia secara umum.

Meniatkan diri untuk menjadi Da'i bukan ajaran para sufi. Ilmu yang berkaitan dengan materi dakwah adalah buah dari ketaatan, bukan modal untuk diniatkan berbicara kepada orang lain. Dasar perjalanan kaum sufi yang pertama adalah mengenal Allah, yang kedua adalah mendekatiNya, dan yang ketiga menatapNya, dan yang ke empat adalah bermesraan denganNya. Tatapan pejalan spiritual ini sama sekali tidak boleh berpaling sedikitpun oleh godaan dunia. Prinsip-prinsip ini yang sama sekali tidak boleh dilanggar oleh pejalan spiritual, karena apabila dilanggar, maka sesungguhnya dia telah tertipu oleh setan, dan maqamnya turun ke posisi semula yaitu, maqam tobat. Bagi kaum sufi, ibadah adalah bentuk kedisiplinan spiritual yang menyebabkan ke empat hal tadi dapat dicapai. Kesibukan diri ini cukup menyita waktu, dan tidak dianjurkan berdakwah apabila tidak dalam rangka mencegah kemungkaran, dimintai pendapat, atau diminta berbicara.

Karena apabila orang mengetahui ujian yang dihadapi oleh seorang da'i, maka mereka akan cenderung menghindarinya. Rasulullah tidak pernah meniatkan diri menjadi da'i, tapi Rasulullah diperintahkan dan dipaksa oleh Allah. Sedangkan kita bukan Rasul dan tidak menerima wahyu, Insya Allah tugas utama kita adalah memperbaiki diri. Sebagaimana Allah mengatakan bahwa seorang menanggung dosa masing-masing. Hal ini menunjukkan tidak ada beban buat seseorang untuk merubah orang lain, melainkan dalam batas-batas yang ditetapkan oleh Allah. Dari sinilah keikhlasan seorang da'i bisa dilihat dari bagaimana asal muasal dia berbicara kepada khalayak.

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan." Al-An'am:164 

Pada saat da'i berbicara tentang kebaikan dan dia belum melaksanakannya maka da'i ini bisa dikatakan sebagai pembohong, dan pembohong adalah salah satu ciri orang munafik. Demikian pula kelurusan niat, saat seorang da'i melihat enaknya dan mewahnya hidup sebagai da'i, maka da'i ini sudah melenceng dari rahmat ilahi, dan terjerumus kepada kesyirikan, berbuat sesuatu bukan karena Allah, tetap menjual ayat-ayat Allah. walahu a'lam bisawab. Naudzubillah min dzalik

Da'i yang terus memaksakan dirinya untuk berbicara, dan selalu berusaha memperbagus ilmunya semata-mata karena ingin mendapat pengikut yang banyak sudah terjerumus kepada riya'. Setan terus membisikkan kepadanya bahwa dakwah adalah jihad, maka dia harus berjuang untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Dari sinilah jelas bentuk kesesatan, bahwa tujuan dakwah bukanlah mencari pengikuti tetapi mengenalkan Allah dan kebesaranNya. Masalah hidayah adalah urusan Allah. Namun akhirnya sang da'i terjebak kepada hawa nafsu. Tidak sedikit yang terjebak kepada popularitas, mencari harta. Naudzubillah. Ciri-ciri da'i yang sesungguhnya kita saksikan Nabi Saw sendiri, yang meninggalkan seluruh kekayaannya demi menyampaikan ayat-ayat Allah. Tidak ada pamrih apapun untuk menyampaikan wahyu-wahyu dari Allah, selain tekad yang kuat untuk kemaslahatan dan keselamatan umat manusia? Lalu apakah tidak boleh menerima hadiah dari jama'ah? tentu boleh. Tapi kemudian jangan dijadikan rutinitas dan ditentukan tarifnya, dengan berbagai alasan transport, konsumsi, dll..dll...Karena disinilah sesungguhnya ujian seorang da'i. Seandainya dia diundang dalam suatu acara, maka semestinya dia membayangkan umat yang haus akan bimbingan dan pengetahuan agama, bukannya apa yang dia dapat dari dakwah di tempat tersebut. Wallahualam.